Selasa, 15 Juni 2010

Adakah solusi Pemadaman bergilir di indonesia?

Terhitung mulai tahun 2005 perusahaan listrik Negara (PLN) menerbitkan himbauan kepada masyarakat untuk melakukan penghematan listrik ketika beban puncak, yaitu terhitung jam 17.00-22.00. ini dikarenakan kebutuhan yang kian hari semakin meningkat sedangkan pasokannya tidak bertambah. Sebagai negara berkembang Indonesia tentunya memerlukan banyak energi listrik terutama untuk memenuhi kebutuhan industri, pelayanan masyarakat, pembangunan infrastruktur ataupun untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Saat ini hampir semua alat-alat pemenuh kebutuhan masyarakat dan bahkan infrastruktur yang ada digerakkan oleh mesin yang membutuhkan listrik ataupun bahan bakar sedangkan sampai saat ini kita masih sangat bergantung pada energy tak terbarukan seperti energy fosil ataupun gas alam yang itupun cadangannya makin menipis dari hari ke hari. 

Jeratan krisis listrik nasional yang sampai posisi saat ini makin parah membuat pemerintah dalam hal ini PLN bertindak cepat. Konsumsi akan energi listrik nasional yang terus meningkat membuat pemerintah berencana membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara yang memang sampai saat ini merupakan cadangan terbesar yang memungkinkan untuk di berdayakan walaupun ini tetap bukan merupakan solusi yang tepat untuk keberlangsungan jangka panjang karena batu bara masih tergolong pada sumber energy tak terbarukan yang akan habis dan tidak bisa di daur ulang meskipun Indonesia memang masih mempunyai cadangan batu bara yang diprediksikan cukup untuk cadangan 45 tahun kedepan, tapi bagaimanapun batu bara tetap jenis sumber energy tak terbarukan yang akan habis sedangkan kebutuhan energy di masyarakat dipastikan akan terus meningkat.

Refernsi yang menjanjikan dan telah direkomendasikan banyak ahli energi adalah pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) yang sampai saat ini masih di anggap controversial karena memang terlalu banyak kepentingan yang bercokol di dalamnya. Rencana pembangunan PLTN sebenarnya telah lama di canangkan di Indonesia mulai dari tahun 70-an. Adanya Program study Teknik Nuklir di UGM adalah merupakan bukti perencanaan pemerintah sejak dahulu tetapi sampai sekarang sudah hampir 40 tahun masih belum terlaksana. Seringkali orang mendengar kata nuklir sudah takut terlebih dahulu, masyarakat hanya melihat sisi buruk dari nuklir itu sendiri karena pemikiran masyarakat telah terkontaminasi oleh peristiwa pemboman hirosima dan Nagasaki jepang pada saat terjadi perang dunia II tentang nuklir. Padahal nuklir ini termasuk sumber energy yang sangat ramah lingkungan dibandingkan sumber energy fosil yang telah popular digunakan, dan aman jika di operasikan sesuai dengan standar prosedur yang ada. 

Pemanfaatan teknologi nulir ini akan dapat menyediakan energi listrik yang sangat besar dengan bahan baku yang efisien dan juga melimpah ada di Indonesia. Jika Indonesia membangun PLTN diperkirakan sumber energy ini bisa bertahan sampai ratusan tahun kedepan.

Tapi sayangnya memang sangat sulit untuk menggoalkan proyek nuklir di Indonesia karena aspek politik luar negeri yang tidak menginginkan Indonesia bisa mandiri dan mapan dalam bidang energy yang nantinya tidak lagi akan bergantung pada pihak asing, atau aspek ekonomi para pengusaha pembangkit-pembangkit listrik yang akan merugi dan bahkan bangkrut jika dibangunnya PLTN di Indonesia karena perbandingan efektifitas dan produktifitas dari 1 PLTN bisa sebanding dengan berpuluh-puluh PLTU jika di bandingkan dengan produktifitas hasilnya dan lain sebagainya masih banyak factor yang mempengaruhi.

Indonesia menjadi Negara yang berkedaulatan energy tidak akan pernah terjadi jika regulasi tentang pengelolaan energy nasional masih bisa dikendalikan oleh asing. Indonesia akan mampu menjadi Negara yang berkedaulatan energy hanya jika pemerintahnya berani mengambil sikap dan berani mengambil resiko dalam memutuskan kebijakan perencanaan dan pengelolaan energy nasional secara mandiri dan independen dari segala kepentingan yang ada terkecuali hanya untuk kepentingan kesejahteraan bagi rakyatnya .

2 komentar:

  1. yap... seperti tulisan yang pernah kubuat...

    Sebenarnya permasalahan TEKNIS itu sudah selesei... [bagaimana memenuhi kebutuhan energi, bagaimana mendapatkan sumber energi yang murah, apa sumber energi yang cocok, dsb dsb...] namun lagi lagi... yang membatasi, yang menjadi batu penghalang itu.."policy", kebijakan....

    Entah tidak berani atau memang acuh, mereka yang ada di sana hampir hampir mengesampingkan "perkembangan" yang sudah terjadi dilapangan. Lihat saja berapa banyak masyarakat pedesaan yang mengembangkan pembangkit listrik skala mikronya sendiri [mikrohidro, biogas, biomassa, dsb...]...

    Yap sudah tugasnya kitalah untuk menyadarkan mereka yang diatas dan juga membantu mengangkat mereka yang ada dibawah, sebagai sebuah solusi untuk permasalahan yang melilit bangsa ini...

    ^^

    BalasHapus
  2. Solusinya: Penghudupan listrik bergilir.
    Sama aja berarti :))

    BalasHapus